lain padang lain belalang

20131117-000018.jpg

Sebentar lagi hari natal tiba berarti musim liburan juga akan tiba. Disini di Australia berarti libur panjang untuk anak-anak sekolah, seperti liburan musim panas di Amerika. Sekolah anak-anak saya mulai libur pertengahan Desember dan masuk kembali di tahun ajaran baru bulan February 2014. Lumayan lama kan! Tahun ini kami tidak pulang ke Indonesia karena tahun lalu kami sudah merayakan natal dan tahun baru di Jakarta dan Jogja. Jadi tahun ini kami duduk manis di down under saja, yang bakalan musim panas yang mana tahan itu.

Yang akan saya tulis disini bukan soal liburan panjang ini. Adalah setiap saya pulang liburan ke Indonesia, entah itu ke Jakarta atau Bali, sering sekali pertanyaan2 seperti ini muncul: “Senang ya tinggal di luar negeri, saya ingin juga deh tinggal di luar negeri” atau ” Suaminya bule ya, enak dong ya bisa tinggal di luar negeri” atau yang agak-agak sedikit heboh seperti “Mau dong tinggal di luar negeri, dapet bule yang kerja di minyak biar bisa sering-sering belanja barang ber-merk, disana kan pasti designer brand lebih murah ya”. Dan banyak lagi pernyataan-pernyataan seperti itu bermunculan.

20131117-000038.jpgSaya kadang pengen ketawa mendengar dan menjawabnya. Yang penting buat mereka adalah tinggal di luar negeri dengan suami bule yang bekerja di perusahaan minyak = bisa membeli barang-barang ber-merk terkenal. Aduh ….coba ya pertama tidak semua bule itu bekerja di perusahaan minyak dan gas. Kedua, seandainya pun sang bule bekerja di perusahaan minyak dan gas bukan berarti mutlak bisa membelikan anda-anda semua tas Louis Vuitton, Gucci, Prada, etc, etc. Bule-bule yang hidup dengan gaya “expat ” di Indonesia yang mana pergi kantor pagi hari, pulang kantor sembari menunggu lewat jam macet menghabiskan waktu di posh restaurant atau bar atau tempat-tempat hang out keren di Jakarta, begitu kembali ke negaranya sendiri ya mereka harus mengerjakan sendiri pekerjaan-pekerjaan yang di Indonesia dilakukan oleh para pembantu rumah tangga itu. Gaya hidup “expat” mereka berubah dengan drastis sekembalinya mereka di negara asal mereka.  Selain itu, tidak semua suami bule itu mampu membelikan istri-istri mereka ratusan atau ribuan dollar hand-bag merek designer terkenal, tidak semua pria bule sanggup menghadiahkan istri Indonesia-nya mobil mewah dengan rumah lengkap dengan pembantu seperti hidup mereka di Indonesia.

Selanjutnya, coba lagi pikir-pikir apa benar hidup di luar negeri itu lebih enak? Segala sesuatunya harus dikerjakan sendiri karena tidak ada istilah pembantu 24/7 di luar negeri. Kecuali anda beruntung mendapatkan suami bule yang sangat kaya raya, bisa deh punya house-keeper, nanny, butler, dan private driver. Selain pekerjan rumah tangga yang harus dikerjakan sendiri, dari mulai mencuci baju, memasak, membersihkan kamar mandi sampai urusan perkebunan dan juga urusan antar jemput anak sekolah dan lain lain, hidup di luar negeri itu menuntut kita untuk mandiri dan tidak bisa malas. Bisa sih malas, tapi ga bisa lama-lama memelihara kemalasan ini. Karena akhirnya kita sendiri juga yang kena batunya akibat kemalasan kita. Mandiri karena suami kita tidak selalu berada disamping terus. Kadang kita harus menghadapi sendiri urusan dengan guru sekolah, dokter, atau kalau mobil rusak dan harus masuk bengkel , tukang listrik atau plumber kalau ada masalah dengan saluran air, dan masih banyak lagi.

Yang paling menyedihkan menurut saya adalah apabila kita sendiri yang jatuh sakit. Sudah badan sedang tidak enak, tapi tetap harus mengantar anak sekolah misalnya, atau ingin makan sesuatu ya harus masak sendiri, belom lagi kalau lagi pengin di pijit atau kerokan! 🙂 🙂 Pokoknya merana deh. Rasanya ingin pulang aza kalau bisa.

20131117-000045.jpg

Satu hal lagi yang saya sampai sekarang merasa kehilangan adalah perawatan rambut, manikur dan pedikur. Mana ada di luar negeri istilah cream bath, dengan dipijit berjam-jam dengan harga yang lumayan murah. Masuk salon disini untuk potong rambut dengan cuci blow saja kurang lebih satu juta lebih kalau di rupiah-kan. Itu pun kepala dicuci tidak pakai pijat kadang malah shampoo masih terasa lengket di kepala. Kalau rambut panjang lebih mahal lagi. Pokoknya kalau urusan mempercantik diri dari mulai kepala sampai ujung kaki, Indonesia khususnya Jakarta menurut saya paling oke deh.

Melalui tulisan ini saya tidak bermaksud menakut-nakuti untuk hidup di luar negeri. Saya hanya ingin bilang bahwa tidak semua perempuan yang menikah dengan bule itu, dan tinggal di luar negeri, bisa hidup mewah seperti yang sering terlihat di film-film. Saya rasa meskipun anda menikah dengan sesama orang Indonesia, bisa juga koq tinggal di
luar negeri, dan siapa bilang suami Indonesia tidak bisa membelikan sang istri tas ber-merk? Justru saya pikir, karena sesama orang asia maka mempunyai pola berpikir yang cenderung sama, jadi ga butuh perlu dibujuk-bujuk sampai pegel linu untuk sebuah Prada, misalnya 🙂

20131117-000056.jpgApapun alasan anda untuk tinggal di luar negeri, yang penting harus siap untuk mandiri dalam segala hal, harus bisa keluar dari comfort zone gaya hidup Jakarta dengan fasilitas pembantu/supir 24/7.  Dan penyakit malas ga bisa terlalu sering kambuh nanti bisa di deportasi 🙂 Joking only.   Menurut saya pribadi sih, tinggal dimanapun, di Indonesia atau luar negeri semuanya ada sisi positf dan negatifnya, ada senangnya ada susahnya. Tergantung kita sendiri yang menjalaninya.

Posted by

Hi I'm Ria! I'm a mama, wife, and a little crazy :) I like eating chocolate, baking, and taking photos of pretty things. This is a personal blog. Mostly I'm rambling about my every day life as a mama, wife, & human being, sharing my home cooking recipes, my travel, and a bit of fashion and beauty. Thanks for dropping by here and happy reading! xx

15 thoughts on “lain padang lain belalang

  1. Bagus nulis ini Ria biar semakin banyak yang tahu hidup diluar negri itu ada suka dukanya. Yang gw bertanya-tanya: kenapa hidup diluar negri identik dengan partner bule & dinegara empat musim? Siapa tahu suami bule tapi tinggalnya di Nigeria, kan suaminya kerja di perusahaan minyak, banyak tambang

    Like

    1. Thank darl! Soalnya kalau di Nigeria ga ada toko Gucci, Prada, etc dong 🙂 Iya, makanya gue juga suka bingung jawabnya. Seperti tulisan di blog elo, bule rangking-nya masih lebih tinggi dari yang kulit berwarna sepertinya ya? Dan negara 4 musim lebih keren kan seperti di film2 itu hahahaaa….:)

      Like

      1. Iya bener, dan sebaliknya ada kok orang Indonesia yang partnernya orang Indonesia atau non bule yang tinggal dinegara empat musim.

        Mau enak tinggal dinegara empat musim? Jangan rewel kalo winternya dingin & licin banget jadi ngga bisa dipake deh stylish stiletto heelsnya ha…ha…

        Like

        1. Betul. Beberapa teman gue disini ada yang partnernya orang Indonesia juga, dan bisa “memanjakan” sang istri dengan nyaman. Jadi ga kudu harus bule kan! 🙂 Louboutin simpen dulu dikotaknya kalo winter yah 🙂 🙂

          Like

    1. Betul Non, banyak yg nikah sm bule disini pun harus ikutan kerja. Makanya gw rasa, for some people perlu ada penataran bahwa kawin dengan bule tidak identik dengan gaya hidup mewah 🙂

      Like

      1. hahaha aku mau cerita, sebenarnya ada loh penataran untuk cowok/cewek bule itu tentang cewek2 indo 🙂 serius ini, aku baru diceritain ama temen aku yang kerja di embassy :). mungkin harus ada juga penataran untuk cewek2 indo yaa kayak kata kamu.

        Like

          1. yupe, ada 2 orang yang baru cerita ama aku. gak tau baru2 ini atau gimana ya hehe. yang satu dari US embassy dan yang lain dari inggris.
            suami kamu kerja di embassy juga ya? kalo gak mungkin emang gak dapet, kayak si matt kan bablas tuh hahahaha

            Like

      2. commentnya nimbrung disini aja ah..yg tentang penataran itu setau aku buat karyawan dan pasangan yng emang kerja di embassy (all embassy ) trmasuk indonesia.biasanya sebelum dikirim ke buat negara mana..ditatar dulu buat mengenal lingkungan setempat dll. atau gak ada penataran buat manner gitu.(ini dapat pelajaran dulu waktu kuliah aku pernah ikutan secara dulu anak HI wajib hukumnya ikutan dan tau etika klo jamuan international ahahahah.maklum ngambil jurusan HI maksud cita2 mau jadi dubes malah kawin ama anaknya dubes ..ngookkk ;p

        eniwei back ke topik tentang bule dan korelasinya dengan hidup enak akupun wonder lhoo kenaapa mayoritas wanita sini berpikiran “pengen bangettttt dapet bule biar idup enak” but then again “idup enak” yang dimaksud tiap orang beda2 juga gak si? walopun teteup biar bisa nenteng tas highfashion *halaahhh

        mungkin bisa juga yang berpikiran speerti itu belum “kebuka” matanya mba kalau behind nya ada pengorbanan yaaang seperti mba cerita diatas 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s